Saat menghadiri acara resepsi pernikahan khusunya Solo dan Jogja pasti Anda akan menjumpai pengantin berdua di arak oleh beberapa orang dari pihak keluarga dan teman temanya. Tradisi ini masih melekat ketika acara sakral nikahan dilaksanakan, dari upacara kirab / panggih dan sungkeman.

Jangan kaget Anda yang masih jomblo-man mendapatkan jodoh wanita idaman dari kota Solo dan Jogja, pasti akan merasakan betapa DEG-DEGan menjalani adat ini. Anda harus berpakaian laksana Raja walaupun hanya sehari saja ...

Kebetulan saya memiliki koleksi photo ketika mengabadikan prosesi pernikahan di daerah saya, tepatnya di kecamatan ceper. Foto-foto tersebut sengaja saya upload disini supaya tradisi prosesi pernikahan adat Solo dan Jogja bisa Anda pahami apabila mendapatkan jodoh wanita dari Kota Solo.

Berikut beberapa foto dokumentasi tradisi prosesi pernikahan adat Jawa - Solo Jogja yang saya ambil menggunakan Nikon D90 :


Air putih berwarna jernih, setelah mereka menikah agar bisa berpikir jernih dalam menghadapi cobaan agar bisa menggapai masa depan, baik dalam suka dan duka. Kendi ini biasanya disebut kendi pertolo, saat saya mendengarkan ucapan dari ibu dukun ( yang mengatur prosesi pernikahan)



Telur asli di injak pasti pecah dan isinya akan meleleh disekitarnya. Setelah menikah, mereka berdua harus bisa memecahkan masalah yang dihadapi. Tidak mementingkan EGO semata, seperti janji suci sebelum mereka menikah, sehidup semati sampai akhir hayat !


Istri membasuh kaki suami tercinta, kesetiaan seorang istri terhadap suami, melayani jasmani dan rohani.



Sungkeman ! sebagai anak wajib menghormati kedua orang tua, tanpa merka kita tidak akan dilahirkan. Orang tua mendidik kita dari bayi menjadi dewasa, pengorbanan demi pengorbanan dilakukan agar sang anak bisa berguna bagi keluarga, Agama dan bangsa. Orang tua merestui pernikahan mereka berdua ...
MIKUL DUWUR MENDEM JERO
Sepatutnya kita sebagai anak harus menghormati orang tua, dalam prosesi pernikahan sungkeman pasti ada, disinilah letak keharuannya, kadang ada yang menagis tersedu karena merasakan emosi senang bercampur haru bahagia.



Suami bertugas mencari nafkah rezqi dan istri bisa menjaga nafkah rezqi dari sang suami. Besar dan kecil itu adalah suatu nikmat rezqi atas pemberian-NYA. Sang istri tidak boleh mengeluh [ngedumel] apabila suami hanya mendapatak rezqi kecil.

Kembali ke awal, kita tidak tahu rezqi yang akan kita dapat, tapi percayalah ! Allah SWT akan memberi rezqi kepada hambanya jika kita mau berusaha.


Dan akhirnya, mereka hidup bahagia karena bisa memahami apa arti dalam kehidupan ini. Harta bukan jaminan hidup bahagia, kesetiaan dan cinta yang diperlukan. Semoga Anda semua termasuk kriteria dalam gambar diatas. Inilah budayaku, inilah tradisiku, tradisi yang tidak akan tergerus oleh JAMAN !